Hati dan Pencurian

yogi khayan dan Aziz khozin

Perasaan tidak menentu, rasa gelisah, rasa sakit yang begitu mendalam di dalam hati, berfikir yang tidak-tidak dan takut akan hilangnya orang yang di sayang pergi dan bahagia dengan orang lain. hal yang munkin sering kali di rasakan oleh anak-anak muda yang mulai serius mencari pasangan hidupnya tapi dihancurkan oleh orang yang dicinta dengan cara mendua. Atau apalah sejenisnya.

yah, hal itulah yang sedang aku rasa, sebuah keputus asaan dan kekecewaan yang mendalam yang teramat amat sangat membuat hati, pikiran dan perbuatan tidak menentu.

meninggalkan orang yang di sayang karena sudah tahu bahwa aku sebenarnya telah di buang. Alasan demi alasan selalu di buat dengan dalih macam-macam, dan yang aku tangkap itu hanya sebuah pembelaan yang membuatku terpaksa menjauh dan pergi untuk sebuah kebaikan yang InsyaAllah itu yang terbaik.

Pergi dan menghilang bukan berarti bahwa aku tidak sayang, tapi dia sendiri yang membuatku pergi.

Sadar bahwa daun yang sudah kering dan tidak dibutuhkan tumbuhan tidak bisa dijatuhkan begitu saja, perlu angin untuk menjatuhkannya. Perlu alasan supaya aku bisa pergi atas dasar kemauanku, bukan kemauan dia. bukan cara yang licik, tapi hanya itu yang aku rasa.

sebagai laki-laki aku paham dan mengerti bahwa aku sebenarnya sudah tidak di butuhkan lagi, dengan perlakuannya yang begitu tidak wajar.

Membuat jarak untuk berkomunikasi, beralasan tanpa argumen yang kuat. dan membuat pernyataan yang kurang lebih jika di simpulkan ” Sudah sana pergi, aku tidak butuh kamu lagi “

ya itu semua adalah asumsi saya dari berbagai hal yang saya alami mulai dari Oktober 2020 sampai akhirnya aku pergi pada November 2020 untuk menyendiri dan menikmati patah hati hingga waktu yang belum tahu sampai kapan.

Namanya juga asumsi pribadi, bisa saja salah. dan akupun menyadari akan hal itu, tepat beberapa hari aku pergi sebenarnya saya sudah menaruh sebuah kode dengan memberikan kata-kata yang menurutku kata-kata itu bisa menimbulkan kepastian. entah itu memang kepastian untuk tetap menetap atau kepastian untuk aku pergi.

hari demi hari dilewati dengan sebuah emosi yang tidak pernah henti. selalu ada masalah yang membuat hubungan diselimuti ke emosian yang begitu besar. tidak pernah ada yang bisa mengalah. yah hubungan ini berbanding terbalik saat awal-awal pertama mengakui saling menyayangi dan mencintai. yang penuh kelembutan, kasih sayang dan pembicaraan yang penuh dengan rasa yang takut akan menyakiti satu sama lain.

ya itu kan dulu, waktu sudah berbeda, 2 tahun lebih aku sudah mengenalnya, dan sebagian sifatnya munkin aku sudah paham, dan bisa menerima segala sifat baik dan buruknya.

namun, sebuah rasa belas kasihan sebuah pasangan pasti akan berubah jadi sebuah rasa emosi yang begitu besar ketika datang orang baru yang masuk melalui salah satu pintu dari dua pintu yang ada.

ya pintu itu kalo bukan laki-laki berarti yang perempuan itu sendiri. Sebagian orang menganggap orang yang melewati pintu itu hanya ingin bertamu atau meminta tolong, tapi orang tidak sadar jika ada niat maksud lain ingin mencuri salah satu pondasi utama, yaitu salah satu hati yang menyatu yang akan menghancurkan sebuah bangunan jika salah satu hati yang menyatu itu di ambil.

sebagian orang memang tidak ada niat untuk mencuri bagian hati, tapi sebagian mencuri karena adanya kesempatan. maka wajar saja jika sebuah hubungan yang harmonis bisa hancur dalam waktu yang begitu tipis.

You May Also Like

About the Author: Yogi Khayan

Mengisi hidup tidak melulu tentang uang, bisa dengan berbagi dengan tulisan ataupun visualisasi vidio, jangan lupa untuk berbagi kebaikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *