Scrool Ke Bawah
<script type="text/javascript"> atOptions = { 'key' : 'a3e2e0c47e9f025230d08789090917a3', 'format' : 'iframe', 'height' : 250, 'width' : 300, 'params' : {} }; document.write('<scr' + 'ipt type="text/javascript" src="//www.topcreativeformat.com/a3e2e0c47e9f025230d08789090917a3/invoke.js"></scr' + 'ipt>'); </script>
CatatanDiaryOpini

Berbicara Pertanian Padi Di Desa Saat Ini

133
×

Berbicara Pertanian Padi Di Desa Saat Ini

Sebarkan artikel ini
pertanian padi

Bismillahirrahmanirrahim,
Malam ini, tepatnya malam tanggal 7 mei 2021, saya mendapat undangan unik, saya bilang unik karena saya mendapat undangan sosialisasi pupuk dari ketua RT saya, dan ketika saya bertanya-tanya pada tetangga saya yang masih satu RT ternyata tidak mendapatkan undangan.
yang membuat unik karena saya bukanlah seorang petani tapi mendapatkan undangan, sedangkan mereka yang petani ada yang tidak mendapatkan undangan. disinilah keunikannya, dan menimbulkan pertanyaan, kok bisa?

nah, disini saya bilang saya bukan petani dalam artian saya bukanlah orang yang memiliki lahan persawahan, karena kehidupan saya di desa jadi untuk mendapatkan julukan petani minimal harus memiliki sawah dan mau ke sawah dan menanaminya padi untuk bisa mendapatkan julukan itu. Sedangkan saya adalah orang yang tidak mau kesawah dan tidak memiliki lahan sawah, atas dasar itu saya lebih menyimpulkan saya bukan petani.

Iklan (Gulir)
Scroll kebawah untuk lihat konten

Secara global, petani atau agrikulturis adalah seseorang yang bergerak di bidang pertanian, utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman, dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain. menurut Wikipedia.

Walaupun saya menganggap saya bukan petani, tapi saya juga termasuk orang yang beberapa kali terjun dalam dunia pertanian yang memiliki arti global tersebut, sudah beberapa kali saya menanam timun, kangkung, tomat, terong dll, nah karena sudah beberapa kali saya menanam tanaman di atas, secara otomatis saya selalu mengikuti perkembangan info-info pertanian melalui web-web berita yang sudah ada. Dan walaupun tidak banyak, saya cukup tahu beberapa ilmu dalam penanaman tanaman, lebih tepatnya biasa disebut tanaman palawija.

Dalam hal itu saya tahu tentang pertanian, tapi tentang dunia pertanian di sawah yang kaitannya dengan padi, saya masih sangat awam sekali.

Sebagai pemuda Millenial yang ingin hidup di desa dan bermanfaat bagi banyak orang, saya senang mempelajari hal-hal baru, dan masalah pertanian adalah hal baru bagi saya, yang menurut saya harusnya semua anak di desa mempelajari ini, karena mau tidak mau, pertanian adalah penyokong kehidupan di desa dan negara Indonesia, seperti yang kita tahu, bahwa PETANI memiliki kepanjangan ” Penyangga Tatanan Negara Indonesia ” jadi sudah seharusnya minimal orang-orang di desa jangan meninggalkan dunia pertanian, entah itu bentuknya di padi ataupun di palawija.

Baca Juga :  Belajar Pramuka Lagi Di Citumang dengan SAKO MAARIF NU CILACAP

Nah, di desa saya yang sangat umum dengan pertanian adalah pertanian sawah yang di tanami padi, itu sudah umum sekali dan hampir 91% mereka yang mempunyai sawah di tanami padi.

memang sekilas padi memang menjanjikan, namun akhir-akhir ini banyak petani mengalami kerugian karena padi mereka yang di panen mengalami harga yang anjlok di pasaran, menurut info hal ini disebabkan karena pemerintah Indonesia melakukan import padi dari negara tetangga, hal ini menyebabkan harga padi petani Indonesia mengalami penurunan, akibatnya petani mengalami kerugian, karena harga penanaman dan perawatan padi tinggi, tapi harga jual begitu murah.

Innalilahi wainnailaihi rojiun, semoga petani-petani kita disegerakan mendapatkan ganti yang lebih baik dan lebih banyak.

Dalam sosialisasi yang saya ikuti tadi, narasumber mengatakan bahwa salah satu info yang beredar mengenai kenapa pemerintah mengimport beras disaat panen raya adalah karena para petani kita di Indonesia sudah terlalu banyak menggunakan bahan kimia dan bisa dikatakan berlebih dalam menggunakan pestisida kimia. Karena hal itu membuat pemerintah import, tapi ini hanya asumsi yang di katakan beliau, karena saya sendiri belum mengetahui bukti akan hal itu.

Jika memang ia itu alasannya, bagi saya itu bukan hal yang masuk akal, karena jika yang mendistribusikan pestisida kimia pemerintah, dan pemerintah malah menyalahkan yang memakai pestisida kimia itu seperti seseorang yang berlepas tangan dengan masalah. Dan menurut saya ini sangat tidak mungkin, jika memang ada bukti bisa di diskusikan di kolom komentar.

salah satu hal yang mungkin bisa menyebabkan import, menurut saya adalah karena adanya kerjasama antara negara kita dan negara tetangga tentang suatu hal yang mengharuskan pemerintah Indonesia melakukan import beras, hal ini sangat mungkin seperti halnya program-program Investasi China di Indonesia yang dalam salah satu poin kerjasama programnya yaitu mengharuskan adanya pekerja cina yang ikut dalam program investasi itu, sehingga walaupun ada pembatasan warga asing karena corona, Indonesia tetap memasukan TKA cina ke Indonesia, ya sebabnya tadi, adanya kerjasama yang sudah di sepakati.

Baca Juga :  BTPN Jenius, Solusi Belanja Online Dengan Kartu Debit

berbicara tentang masalah pertanian sawah, saya sangat mengapresiasi kepada para petani Indonesia yang dari dulu sudah menyuplai beras untuk kebutuhan pokok seluruh warga Indonesia.

dan mungkin untuk tahun-tahun ini, kalia sedang mendapatkan ujian dari Allah, karena sedang mendapatkan musibah harga jual pari yang murah sehingga menimbulkan kerugian yang banyak bagi para petani.

sebenarnya dari kejadian ini munkin kita bisa belajar bahwa, mungkin kita harus mencoba menanam yang lain, semisal Cabe, ya hal itu mungkin saja mengingat cabe juga sangat menjanjikan harganya. Karena kita tidak munkin hanya berpangku tangan melihat musibah yang terjadi. Harus mencari jalan keluarnya. memang jika kita menanam cabe di sawah pasti akan mendapatkan masalah baru, seperti cara penanaman yang baik dan benar bagaimana, dan model pembajakan sawah juga berbeda dengan saat menanam padi.

Tapi itu bisa menjadi lahan belajar dan lahan mengembangkan pertanian kita, jika kita memiliki banyak lahan sawah, kita jadi bisa menanam dua jenis tanaman di lahan sawah kita, sehingga jika harga tanaman satu turun, InsyaAllah harga tanaman yang lainnya naik.

Walaupun demikian tidak harus juga lombok yang harus ditanam, para petani bisa memilih tanaman lainnya, semisal mentimun, yang bisa panen dalam 28 hari, setidaknya dengan menanam timun kita sudah berusaha mengembalikan kerugian dari hasil kita menanam padi.

karena waktu panen yang singkat dan perawatan yang tidak begitu rumit.

kita kembali lagi membahas masalah pestisida kimia yang tadi sempat di bilang sebagai dalang pemerintah import beras.

akhir-akhir tahun ini, pestisida kimia ataupun pupuk kimia sedang menjadi pembahasan serius yang sering di bahas di berbagai forum, terutama forum-forum pertanian, hal ini di karenakan pestisida kimia memiliki efek jangka panjang yang buruk bagi kesehatan kimia.

karena hal itu memunculkan berita burung yang mengatakan bahwa susahnya pestisida kimia ataupun pupuk kimia didapat oleh petani karena sebagai upaya pemerintah untuk mengurangi penggunaan bahan kimia yang berbahaya ini.

jika itu memang benar, sangat tidak masuk akal jika di korelasikan dengan asumsi import di atas. jika seperti itu pemerintah terkesan cuci tangan akan masalah petani. Namun sebagia rakyat biasa kita hanya bisa menerima apa yang sudah menjadi keputusan, tapi kita harus selalu yakin bahwa pemerintah selalu mementingkan warganya walaupun kita kadang tidak tahu cara yang mereka lakukan.

Baca Juga :  Awal Musibah Perjalanan Ke Gunung Bismo

nah, karena semakin gencarnya pembahasan penggunaan bahan kimia dan susahnya barang itu didapat oleh petani membuat para petani harus mencari solusi dari masalah itu, akibatnya banyak orang-orang yang berlomba-lomba membuat Pestisida dan Pupuk organik yang aman digunakan oleh petani, salah satunya adalah pupuk dan pestisida yang tadi di sosialisasikan.

hal yang bagus, tapi dengan harga yang lebih mahal, dan anehnya saya belum mendapatkan info respon pemerintah yang munkin memiliki keinginan untuk ikut membantu mengorganikan pupuk dan pestisida petani, setidaknya itu di daerah saya. Kalo di daerah lain saya belum tahu.

Selain itu, sosialisasi akan akan pupuk dan pestisida organik juga masih sangat sedikit, jadi masih jarang orang yang mengetahui, dan hal ini menurut saya membuat kurang maksimalnya proses pengorganikannya padi di daerah saya, munkin juga di Indonesia.

Akan sedikit mubazir jika satu sawah menggunakan organik dan satu sawah yang berdekatan ataupun dua atau tiga sawah yang berdekatan menggunakan bahan kimia, karena usaha sawah satu yang menggunakan bahan organik akan ikut terkontaminasi bahan kimia, karena air sawah yang menggunakan bahan kimia juga mengalir ke sawah-sawah yang di sampingnya, salah satunya sawah yang menggunakan bahan organik.

Alangkah baiknya lagi jika pemerintah ataupun perguruan tinggi ikut berpartisipasi melakukan sosialisasi penggunaan pupuk dan pestisida organik sekaligus pembuatannya di ajarkan dan dibina langsung, hal ini akan menjadikan program swasembada pangan di daerah saya ataupun di Indonesia bisa terpenuhi dengan hasil yang bagus dan sehat.

ini adalah sedikit tulisan saya yang saya tuangkan di blog saya, pemikiran ini saya dapat dari pengolahan materi yang saya dapat dari beberapa kali mengikuti seminar tentang pertanian, dan disini saya bukanlah seorang ahli pertanian. semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan bisa menjadi ajang diskusi yang bermanfaat pula, terimakasih

Harap Matikan AdBLock Iklan Atau Gunakan Browser Yang Mendukung Iklan